Kamis, 05 Januari 2017

Harapan Baru Dan Makna Cinta



Harapan Baru Dan Makna Cinta
1 Januari 2017… kubuka lembaran baru lalu kutulis serangkaian kata demi kata, dengan sejuta mimpi mulai kurajut diatas kertas. Sebuah harapan baru telah terlampir.
Tertulis pula kisah-kisah baru yang akan kuceritakan pada dunia kelak, kepada mereka: anak, cucu, dan generasiku.
Hingga hati bertanya pada Dunia, “Mengapa Harapku tak kunjug datang?”
Sempat juga aku bertanya pada Tuhan “Adakah satu kesempatan untukku jatuh cinta?”
Aku percaya suatu mukjizat itu ada, tapi adakala nya aku ragu. Karena tidak tau dengan sebuah saksi bisu. Saksi bisu??? Apa itu saksi bisu?.
Sebuah waktu merupakan saksi bisu, setiap saat menyaksikan yang terjadi tapi tak bisa berkata apalagi membela suatu hati yang luka. Aku berdiri dan berjalan menyusuri tepian luka lama hingga bisa menutupinya dengan setumpuk Batu Ketegaran dan segenggam Tanah Keikhlasan.
 Bah… kata-kata yang hanya bisa menutupi Kata Hati yang lugu hingga tersusun sebuah kalimat lesu yang tak bertenaga, Kalimat kosong tanpa makna. Namun, sebuah kepastian tiba pada ujung penantian. Menyongsong tahun Baru aku mulai bangkit dan tanamkan kembali sebuah mimpi yang kelak bisa mewujudkan mimpi itu.
Tanpa sadar aku mulai menyaksikan Masa Depan yang jelas terlihat. Melihat sedikit pelangi harapan yang menantiku itu. Aku ingin menciptakan sebuah karya, sehingga dunia bisa tahu siapa aku tanpa harus tahu bagaimana pengorbananku. Mengiringi sebuah harapan baru itu, aku tahu Doa orangtuaku selalu menyertai setiap langkah dan jalanku agar aku tidak jatuh dalam jurang dan jeruji kesengsaraan.
Aku ingin seribu dari sejuta mimpi itu berhasil hingga aku bisa membayar sedikit usaha orangtuaku. Satu diantaranya yang harus terwujud olehku, aku bisa membasuh keringat ayahku ketika melepas penat. Dan menyeka airmata seorang bunda dihari tuanya ketika mengingat kecongkakan dan kesombongan dunia pada masa mudanya. Nol koma sekian persen itulah nilainya pengorbananku. Sejauh mana pun aku berjalan, sepanjang waktu pun aku menyusuri tepian jurang kehidupan tidak akan pernah bisa aku aku membalas cinta kasih dari mereka. Hingga aku tersadar oleh sebuah kalimat tiada cinta yang lebih mulia dari pada cinta orangtua kepada anaknya.
Hingga akhirnya aku menemukan harapan itu dan mengerti arti sebuah CINTA yang sebenarnya. Terima Kasih Ayah, Terima Kasih ibu sehingga aku tahu sekarang DIA bukanlah sebuah harapan yang kudambakan dan kukejar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar